Sejarah Manga

Meskipun manga modern lahir dalam ledakan kreativitas Jepang pasca-Perang Dunia II, asal usulnya dapat ditelusuri kembali ke abad ke-12 dan 13. “Manga” tertua adalah Chōjū-jinbutsu-giga, satu set gulungan milik kuil Kōzan-ji di Kyoto, Jepang. Gulungan-gulungan tersebut, yang dibuat oleh satu atau beberapa biarawan, menggambarkan situasi humoris yang melibatkan hewan dan menceritakan kisah dalam gambar yang mengalir dari satu momen ke momen lain, sebuah contoh sequential art yang merupakan basis komik modern.

Source : https://www.japantimes.co.jp/culture/2014/10/02/arts/openings-outside-tokyo/masterpieces-of-kosan-ji-temple/

Istilah “manga” sendiri pertama kali dipopulerkan oleh buku Hokusai Manga dari seniman Hokusai Katsushika. Namun, penggunaan kata itu tidak memiliki arti yang sama seperti sekarang karena buku Hokusai bukanlah sebuah cerita kohesif, melainkan kumpulan sketsanya mengenai berbagai subjek. “Manga” digunakan dalam bentuk modernnya untuk pertama kalinya pada tahun 1900 dalam halaman komik Manga Jiji di koran harian Jiji Shimpo. Di halaman inilah pula Rakuten Kitazawa memulai komik strip modern pertama di Jepang.

Selama tahun 1920-an dan 30-an, pemerintah Jepang menegakkan nasionalisme budaya yang menyebabkan penyensoran ketat terhadap semua bentuk penerbitan karya seperti manga dan anime. Banyak artis didorong untuk menghasilkan seni dengan tujuan menguatkan semangat nasionalisme Jepang. Hal ini menyebabkan banyak majalah tutup, menyensor diri, atau menanggung risiko hukuman karena banyak karya populer mereka bertema sindiran atau mempromosikan “perilaku yang tidak diinginkan”. Tindakan pemerintah mencapai puncaknya selama Perang Dunia II ketika banyak penulis harus menghasilkan propaganda atau dihukum dengan penahanan, pengucilan, dan larangan menulis.

Namun, selama dan setelah pendudukan Sekutu di Jepang, sebuah ledakan kreatif muncul dari suntikan media asing serta jatuhnya banyak penerbit besar sebelum perang sebagai akibat dari tindakan pemerintah. Dorongan artistik ini diperkuat oleh Konstitusi Jepang yang melarang segala bentuk penyensoran. Di garis depan gerakan ini adalah dua manga yang akan membentuk masa depan medium manga selamanya: “Sazae-san” karya Machiko Hasegawa dan “Mighty Atom” karya Osamu Tezuka yang juga dikenal sebagai “Astro Boy“. Keduanya menggambarkan dan menampilkan harapan pascaperang Jepang dengan caranya tersendiri dan merupakan pelopor gaya, artistik, dan tematik yang menjadi pengaruh besar untuk mangaka masa depan.

Source : https://www.cbr.com/astro-boy-manga-facts/

Antara tahun 1950 dan 1969, pengaruh manga menguat dengan kelahiran dua genre pemasaran utamanya, manga shonen untuk anak laki-laki dan manga shoujo untuk anak perempuan. Laki-laki muda termasuk pembaca manga paling awal setelah Perang Dunia II. Sejak tahun 1950-an dan seterusnya, manga shonen berfokus pada topik-topik yang dianggap menarik bagi anak laki-laki seperti robot sci-fi dan petualangan pahlawan-pahlawan. Dari genre utama ini muncul dua lagi: manga seinen yang ditargetkan untuk pria muda dan seijin untuk pria dewasa.

            Hingga 1969, manga shoujo terutama dibuat oleh penulis pria untuk anak-anak perempuan. Manga influensial periode ini termasuk “Ribon no Kishi” dari Osamu Tezuka dan Mahōtsukai no Sarii dari Mitsuteru Yokoyama. Namun, ini berubah dengan debut Year 24 Group, sekelompok mangaka wanita yang menandai masuknya artis wanita ke dunia manga. Sejak itu, manga shoujo digambar terutama oleh wanita untuk perempuan dan wanita muda.

Source : http://tezukainenglish.com/wp/?page_id=1805

            Sekarang, manga telah berkembang menjadi fenomena budaya yang mendunia. Pembaca-pembaca, baik dari dalam maupun luar Jepang, tertarik dengan kreativitas kesenian, naratif, dan tematiknya. Genre dan pasarnya yang beragam merupakan pintu masuk bagi masyarakat segala umur dengan segala bentuk minat. Manga bahkan telah menjadi bagian integral dunia hiburan Jepang lain yaitu anime, saling komplemen dan mendukung. Dengan mediumnya yang terus berkembang, dapat dikatakan bahwa sejarah manga akan berlanjut selama bertahun-tahun yang akan datang.

Fun facts :

  1. Hokusai Katsushika, yang pertama kali memopulerkan kata “manga”, juga menciptakan salah satu karya seni Jepang paling terkenal dalam sejarah, Ombak Besar di Kanagawa.
Source : https://id.wikipedia.org/wiki/Ombak_Besar_di_Kanagawa

2. Gaya “mata besar” yang diasosiasikan dengan manga sebenarnya berasal dari ilustrasi majalah shoujo. Ilustrator yang terkait erat dengan gaya ini adalah seniman grafis dan fashion designer Jun’ichi Nakahara, yang terinspirasi dari kerjanya sebagai pembuat boneka.

Source : https://www.listal.com/viewimage/8450357

3. Ketika pemerintah Jepang mulai menegakkan agenda nasionalisme budayanya, majalah-majalah terkadang menunjuk seorang karyawan untuk menjadi “editor penjara” yang akan mendapat kehormatan untuk ditahan jika majalahnya dihukum.

Sources :

en.wikipedia.org
www.widewalls.ch
umich.edu
blog.britishmuseum.org
www.tokyocreative.com

Sapporo Yuki Matsuri

The Frigid Outskirt Festival
Festival luar biasa besar musim dingin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Sapporo Yuki Matsuri. Seperti namanya, Sapporo Yuki Matsuri adalah festival salju yang diselenggarakan di kota Sapporo, ibu kota Hokkaido, pulau terbesar kedua di Jepang yang terletak di pinggiran sebelah utara negeri matahari terbit ini. Sapporo Yuki Matsuri menjadi salah satu festival paling besar di Jepang dan juga masuk ke dalam salah satu festival musim dingin terbesar di dunia sehingga menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dan utama jika ingin berkunjung ke Sapporo di musim dingin. Festival ini biasanya diselenggarakan pada akhir januari atau awal februari dan berlangsung selama kurang lebih seminggu.

Source : https://www.jrailpass.com/blog/sapporo-snow-festival

Sapporo Yuki Matsuri dibagi menjadi 3 area, yaitu area Odori, Tsu-Dome, dan Susukino. Area Odori terletak di Taman Odori yang membentang dari timur ke barat melintasi pusat Kota Sapporo. Pengunjung akan disambut oleh patung-patung raksasa dari salju yang berjajar di sepanjang 1,5 kilometer area ini. “Festival Salju Sapporo” di area Odori dibuka sepanjang hari sehingga Anda dapat menikmati patung-patung salju tersebut sepuasnya. Ketika malam tiba patung-patung salju ini akan menyala dengan indah karena diberi pencahayaan. Community Dorm Sapporo yang dikenal dengan sebutan area Tsu-Dome menjadi tempat yang sangat populer di kalangan pengunjung karena terdapat atraksi-atraksi unik seperti persosotan salju raksasa. “Festival Salju Sapporo” di Tsu-Dome dibuka dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore. Area Susukino merupakan distrik restoran terbaik di Sapporo, terutama pada saat menampilkan patung-patung es selama festival berlangsung dan terdapat ruang terbuka dimana pengunjung dapat menyentuh dan menaiki patung es. Sama halnya dengan area Odori, patung-patung es yang dipamerkan pun akan menyala saat malam hari karena sudah diberi lampu penerangan.

Source : https://wisatajepang.co.id/10-winter-festival-terbaik-di-hokkaido-jepang/

Banyak hal yang dapat dilakukan saat menghadiri festival ini, salah satunya adalah berkeliling menikmati dekorasi patung dan ukiran yang terbuat dari es dan salju. Banyak sekali es dan salju yang disulap menjadi karakter anime dengan ukuran yang besar mulai dari patung doraemon hingga patung colossal titan. Terdapat pula atraksi seperti seluncuran salju yang dibentuk sedemikian rupa dan dapat dinikmati pengunjung. Pemandangan malam yang dihiasi oleh lampu kelap-kelip yang menghiasi ukiran salju menjadi sebuah pemandangan yang sangat berkesan dan menjadi salah satu daya tarik Sapporo Yuki Matsuri. Pengunjung dapat pula menikmati hidangan-hidangan khas musim dingin di Jepang seperti nabe, sukiyaki, shabu-shabu, oden, dan banyak hidangan lainnya. Musim dingin juga menjadi waktu yang tepat untuk menikmati onsen atau pemandian air panas yang ada di Jepang, terlebih saat berkunjung ke Hokkaido. 

Source : https://soranews24.com/2020/12/11/sapporo-snow-festival-moves-to-effectively-cancel-event-for-first-time-in-history/

Sapporo Yuki Matsuri bermula pada tahun 1950, ketika pelajar tingkat menengah membuat enam patung salju di taman Ootsu. Perang salju, pameran patung salju, serta karnaval diselenggarakan secara bersamaan dan mendatangkan sekitar 50.000 orang menjadikan kegiatan ini terkenal tanpa diduga. Kemudian festival salju tersebut ditetapkan sebagai kegiatan musim dingin oleh masyarakat kota Sapporo. Pada tahun 1953, patung salju setinggi 15 meter dibuat dan pada tahun 1955, pasukan bela diri Jepang mulai berpartisipasi untuk membuat patung berukuran besar. Pada 1959, penyelenggaraan tahun ke-10 Sapporo Yuki Matsuri, sekitar 2.500 orang dimobilisasi dalam pembuatan patung salju dan mulai diekspos di koran serta televisi untuk pertama kalinya. Pada tahun 1972, olimpiade musim dingin diselenggarakan di Sapporo dan festival bertema “Selamat datang ke Sapporo” menjadi dikenal dunia.

Bunka no Hi (文化の日)

source : http://every-day-is-special.blogspot.com/2015/11/november-3-bunka-no-hi-in-japan.html

Bunka no Hi (文化の日) yang secara harfiah berarti Hari Kebudayaan adalah salah satu hari libur nasional di Jepang yang jatuh pada setiap tanggal 3 November. Hari libur ini merupakan hari libur yang relatif baru dibandingkan dengan hari libur nasional Jepang yang lainnya yang memiliki sejarah ratusan tahun. Bunka no Hi pertama kali dirayakan pada tahun 1946 pasca peristiwa Perang Dunia II. Hari libur ini ditujukan untuk memperingati hari diumumkannya Konstitusi Jepang setelah Perang Dunia II. Hari Konstitusi sendiri dirayakan pada setiap tanggal 3 Mei dimana hari tersebut merupakan hari pertama dilaksanakannya Konstitusi Jepang. Sebelum menjadi Bunka no Hi, tanggal 3 November sudah menjadi hari libur nasional yang dimulai pada tahun 1868 untuk memperingati ulang tahun Kaisar Meiji. Namun sejak tahun 1912, tahun kematian Kaisar Meiji, hari libur ini ditiadakan hingga tahun 1927. Tanggal 3 November kemudian berhenti menjadi hari peringatan ulang tahun Kaisar Meiji dan digantikan dengan Bunka no Hi. Hal tersebut dilakukan karena pertimbangan perayaan ulang tahun kaisar sudah dirayakan pada tanggal 23 Februari dan tidak perlu adanya perayaan ulang tahun khusus untuk Kaisar Meiji.

Saat Bunka no Hi, banyak acara-acara yang berbeda yang digelar masing-masing daerah di Jepang. Bunka ni Hi di Jepang dirayakan dengan berbagai macam cara, seperti mengadakan pameran seni, pertunjukkan, atau parade. Contohnya pada Kuil Meiji-Jingu di Harajuku mengadakan pertunjukkan tradisional yaitu memanah sambil menunggangi kuda (Yabusame) dimana setiap anak panah yang ditembakkan tidak pernah meleset dari target. Kemudian Kuil Sensoji di Tokyo mengadakan parade kostum dimana masyarakat mengenakan baju tradisional seperti baju samurai, geisha, atau daimyo. Dan di Nagoya, masyarakat merayakan Bunka no Hi dengan pertunjukkan tarian-tarian tradisional Jepang.

Keiro no Hi (敬老の日)

Keiro no hi(敬老の日) adalah salah satu hari libur nasional menurut kalender Jepang. Keiro no Hi merupakan hari menghormati lanjut usia yang diselenggarakan setiap hari Senin ketiga bulan September. Yang pada tahun 2020 ini diperingati tanggal 21 September.

Souce : https://savvytokyo.com/keiro-no-hi-celebrating-health-wisdom-aging-society/

 Awalnya, pada tahun 1947, sebuah desa di prefektur Hyogo merayakan 15 September sebagai hari orang lanjut tua. Kepopulerannya berkembang ke seluruh Jepang. Hingga pada tahun 1966 dijadikan hari libur nasional dengan nama ‘Keiro no Hi’. Kemudian saat Jepang mengadopsi sistem Happy Monday, hari liburnya menjadi Senin ketiga bulan September.

Souce : https://www.jaccc.org/2019-keiro-no-hi-festival

Masyarakat Jepang memperingati hari penghormatan lanjut usia dengan pulang kampung menengok kakek dan nenek mereka, atau berkeliling disekitar lingkungan dan membantu orang lanjut usia. Banyak juga yang menjadi relawan di panti jompo untuk membantu.

Pemerintah Jepang sendiri memperingatinya dengan mengirimkan cawan sake berlapis perak kepada orang berusia diatas 100 tahun setiap tahunnya. Hingga tahun 2005, ada lebih dari 25.000 ribu orang lanjut usia yang sudah menerima cawan perak. Saking banyaknya penerima cawan sake, pemerintah Jepang berencana mengurangi ukuran cawan sake atau mengganti perak menjadi bahan lain untuk menghemat anggaran.

Source :
time.com
www.mhlw.go.jp
www.yamada-heiando.jp

KaiKeiDo

Bagi banyak orang, bekerja itu membosankan. Namun, bagi Jepang, bekerja sudah menjadi sebuah cara hidup dengan budaya sendiri yang membedakannya dengan cara kerja lain. Budaya seperti apa? Mari kita pelajari beberapa tips and tricks Jepang – kaizen, keishan, dan bushido.

Photo by Fikri Rasyid on Unsplash

Dari kanji ‘kai’ (改) yang berarti ‘perubahan’ dan ‘zen’ (善) yang berarti ‘kebaikan’, kaizen (改善) bermakna ‘perbaikan’ atau ‘improvement’.Menurut kaizen, tiap individu harus selalu bekerja untuk memperbaiki diri sendiri. Perubahan ini tidak perlu besar-besar, bahkan lebih baik jika kecil selama dilakukan terus-menerus. Ini karena perubahan besar, atau inovasi, tidak akan membuahkan hasil tanpa usaha terus-menerus untuk menjaganya tetapi kaizen tidak perlu inovasi untuk membuahkan hasil.

Keishan memiliki makna yang serupa dengan kaizen, yaitu perbaikan terus-menerus. Namun, dalam keishan ada fokus khusus terhadap kreativitas, daya inovasi, dan produktivitas. Menurut prinsip-prinsipnya, seseorang yang berpegang teguh pada budaya keishan tidak akan pernah berhenti belajar karena semua hal menarik yang kita temukan dan pelajari dapat menjadi inspirasi bagi kita. Jika kita terinspirasi, kita bisa menghasilkan karya-karya yang unik, kreatif, dan bermanfaat.

Bushido (武士道, “the Way of Warriors/Jalan Ksatria”) sudah mendefinisikan kehidupan Jepang sejak zaman feudal. Sejak dulu, belum pernah ada satu definisi tetap mengenai ‘bushido’, tetapi seseorang yang memiliki nilai-nilai bushido akan pegang erat nilai kesederhanaan, kejujuran, kekeluargaan, dan kesetiaan. Menurut Nitobe Inazō, ada delapan prinsip dasar yang dimiliki Kode Bushido: Kesungguhan (义, gi), Keberanian (勇, yu), Kebajikan (仁, jin), Penghargaan (礼, rei), Kejujuran (诚, makoto), Kehormatan (名誉. meiyo), Kesetiaan (忠义. chūgi), dan Kontrol Diri (自制, jisei).

Perbaikan terus-menerus, pencarian inspirasi yang tidak berhenti, dan hidup menurut bushido mungkin merupakan beberapa rahasia kemakmuran Jepang, tetapi tidak ada alasan kita tidak bisa ambil pelajaran dari mereka. Jadi apa yang kita tunggu?

Sumber :
Kaizen: The key to Japan’s competitive success
japantrips.co
glints.com
idntimes.com
en.wikipedia.org

Obon Matsuri

Obon (お盆) itu adalah sebuah tradisi Jepang dimana kita memberi hormat pada leluhur-leluhur kita. Seperti banyak dari tradisi Jepang, Obon juga merupakan tradisi yang memiliki asal dari agama Buddha dan China. Dan juga seperti tradisi Jepang lainnya, Obon juga ikut dirayakan dengan cara yang unik, yaitu melalui tarian yang diberi nama Bon Odori.

Obon dirayakan secara nasional pada 13 – 16 Agustus setiap tahunnya. Namun, beberapa daerah ada juga yang merayakannya pada 15 Juli. Hal ini disebabkan peralihan dari kalender China ke kalender modern yang tidak sepenuhnya sesuai. Dan juga, pada kalender Jepang, 3 hari ini bukanlah hari libur nasional, tapi wajar apabila kita diberi izin untuk libur.

Source : https://www.mauimagazine.net/maui-obon/

Nah tadi kan kita dah kasih tau, Obon ini ditemani oleh tarian-tarian yang bernama Bon Odori. Jadi Bon Odori itu awalnya merupakan tarian tradisional yang bertujuan untuk menyambut roh. Tapi seiring waktu, Bon Odori berubah menjadi tarian perayaan. Dan Bon Odori sendiri tidak sama di semua daerah. Bukan hanya tarian yang berbeda, tiap daerah juga memiliki musik pengiring yang berbeda. Salah satu lagu yang paling popular, yang kalian mungkin juga pernah dengar, adalah Sōran Bushi! Lagu lain yang juga cukup populer adalah Tokyo Ondo.

Bon Odori dari tahun ke tahun mulai kehilangan aspek religiusnya. Sekarang, masyarakat Jepang merayakan Obon hanya sebagai tradisi. Walaupun begitu, Obon masih dirayakan setiap tahun di seluruh penjuru Jepang. Jadi kita gaperlu khawatir. Budaya ini pasti akan berlanjut selama Jepang masih ada. Keren banget kan!

Source : https://livejapan.com/en/article-a0001368/

Setelah kita lihat-lihat ternyata Obon keren banget ya! Sebuah perayaan besar yang penuh musik dan tarian. Pasti jadi pengen banget kan merasakan hari Obon langung di Jepang!

Tapi kalian gaperlu jauh-jauh! Di UKJ ITB kalian juga bisa merasakan bagaimana sensasi menarikan tarian-tarian Bon Odori. Pokoknya seru banget deh! Jadi kalau penasaran bisa nih ikut kami!

Makasih ya sudah membaca! See you soon!

Sources : matcha-jp.com, www.adventuretravel.co.id, www.japan-guide.com

Furoshiki (風呂敷)

Furoshiki (風呂敷) merupakan metode tradisional Jepang yang digunakan untuk membungkus sesuatu. Furoshiki biasanya digunakan untuk membungkus bekal atau bento, sake, dan hadiah. Furoshiki menggunakan kain sebagai media pembungkus sehingga ramah lingkungan.  Furoshiki berasal dari dua kata yakni furo (mandi) dan shiki (lantai). Istilah furoshiki sendiri populer mulai pada Periode Muromachi (1136-1573), dimana sebelumnya istilah furoshiki dikenal sebagai tsustumi (bingkisan) yang diperkirakan sudah ada sejak sekitar tahun 710 sebelum masehi.

Istilah furoshiki digunakan dikarenakan pada saat itu, para penguasa klan di Jepang membungkus kimono mereka dengan tsutsumi yang dilabeli dengan lambang klan mereka saat akan mandi agar kimono mereka tidak tertukar. Begitu mereka selesai mandi, mereka mengeringkan diri mereka dengan berdiri di atas tsutsumi yang mereka taruh di lantai, kemudian mereka memakai kimono. Maka dari itu, istilah furoshiki berasal dari kain bingkisan yang digunakan untuk mengeringkan diri setelah mandi (furo) yang diletakkan di lantai (shiki).

Source : https://www.google.com/search?q=furoshiki&safe=strict&client=firefox-b-d&sxsrf=ALeKk01LI-U_s4pzLjOPyK9swb4iUqF8hA:1596617706976&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwiSv5C62IPrAhVj7HMBHSHPDWAQ_AUoAXoECBIQAw&biw=1536&bih=688#imgrc=q9HrYNNCqsI4MM

Furoshiki dibagi menjadi beberapa jenis dengan kegunaan yang berbeda-beda. Furoshiki entou tsusumi digunakan untuk membungkus benda yang panjang, bin tsutsumi digunakan untuk membungkus miniman botol seperti sake, suika tsutsumi digunakan untuk membungkus buah besar seperti semangka atau melon, yotsu musubi digunakan untuk membungkus benda kotak seperti bekal (bento)  atau paket, dan masih banyak jenis furoshiki lainnya yang dapat digunakan.

Furoshiki memiliki filosofi sebuah benda yang memiliki kegunaan yang berbeda-beda tergantung pada cara pemakaiannya, dalam hal ini kain yang dapat mengangkut barang yang berbeda-beda tergantung cara melipat dan mengikatnya. Furoshiki juga memiliki filosofi hidup yang ramah lingkungan dengan seni indah karena disamping dapat mengurangi sampah, furoshiki juga membuat penampakan benda lebih indah dan menarik terlebih jika dihiasi dengan pita atau bunga.

Source:
paprikaliving.com
womantalk.com
invaluable.com
japanobjects.com

Umi no Hi (海の日)

Umi no Hi ((うみ)()) yang berarti hari laut merupakan salah satu libur nasional Jepang yang tahun ini jatuh pada 23 Juli. Hari libur ini merupakan hari yang didedikasikan untuk menghargai segala pemberian dari laut serta untuk mengingat betapa pentingnya laut bagi negara.  Negara Jepang yang merupakan negara kepulauan sangat bergantung terhadap hasil laut, sehingga mereka benar-benat menghargai laut.

source : https://blog.japancentre.com/2018/07/13/celebrating-umi-no-hi-marine-day-in-japan/

Disahkan pada tahun 1996 sebagai hari libur nasional Jepang, awalnya hari laut dirayakan setiap tanggal 20 juli, Kemudian, sistem Happy Monday yang diadopsi Jepang membuat hari raya ini berubah menjadi setiap senin ketiga pada bulan juli.. Tapi, pada tahun 2020 dibuat penyesuaian khusus sehingga liburnya digeser ke hari kamis, 23 juli karena adanya Olimpiade Tokyo 2020 (yang sayangnya ditunda karena pandemi COVID-19).

Pada hari laut, masyarakat Jepang merayakannya dengan mengunjungi laut. Ada yang sekedar berlibur di pantai atau menyelam di laut, ada juga yang mengadakan festival kelautan sebagai rasa syukut akan hasil laut.  Bahkan, terdapat beberapa daerah yang melakukan upacara untuk berterima kasih kepada laut.

Wujud rasa syukur masyarakat Jepang terhadap laut dan isinya merupakan hal yang dapat kita contoh. Mengingat kondisi negara Indonesia yang sama seperti Jepang, sama-sama sangat bergantung kepada hasil laut sebagai negara kepulauan.

Source : http://iroha-japan.net/iroha/A02_holiday/09_umi.html

Gion Matsuri (祇園祭)

Gion Matsuri atau festival Gion (kanji: 祇園祭 hiragana: ぎおんまつり), adalah sebuah festival dari Kyoto. Festival ini terdiri dari rangkaian acara dan berlangsung selama satu bulan penuh di bulan Juli. Pada festival ini diadakan sebuah parade kereta yang disebut ‘Yamaboko’. Yamaboko sendiri terdiri dari dua jenis yaitu Yama dan Hoko. Yama adalah kereta beroda (float) terbuat dari kayu, mempunyai roda seukuran manusia, mempunyai hiasan yang megah, dan ditarik oleh sekitar 40 sampai 50 orang. Masing-masing Yama mempunyai tema masing masing dan merupakan cerita dongeng yang berasal dari China. Sementara Hoko adalah jenis Yama yang memiliki menara menjulang tinggi yang di ujung paling atasnya terdapat hoko, sebuah pedang-katana dengan mata di dua sisi seperti tombak segitiga. Pada saat acara berlangsung, orang orang yang menyelenggarakan acara ini, memakai pakaian tradisional. Beberapa diantara mereka berpakaian layaknya seorang samurai (dengan baju pelindung dan yang terlihat seperti menggunakan katana), menggunakan topi, dan lain sebagainya. (bobo.grid.id. 2017)

source : https://mainichi.jp/english/graphs/20180717/hpe/00m/0dm/001000g/1

Puncak acara dan hari yang paling dinanti oleh para turis adalah Yoiyama, diadakan pada malam tanggal 16 Juli menjelang tanggal 17 Juli. Sebelum keberlangsungan Yoiyama, 16 Juli dimalam hari, orang-orang di Kyoto berganti pakaian menggunakan yukata dan melihat persiapan Yama sebelum berangkat di kemudian hari. Besoknya, pada tanggal 17 Juli, adalah hari keberangkatan Yama dan Hoko di seberang sungai Kamo. Selain memamerkan Yamaboko, anda dapat menyaksikan anak-anak menyanyikan lagu pendek sebagai alat perhatian untuk jimat yang mereka jual. Secara tradisional beberapa orang membuka bagian depan rumah dan toko untuk memperlihatkan pusaka – pusaka kepunyaan mereka, dan anda pun bisa mendengar lagu “Kon-Chiki-Kon” buatan Gion-bayashi disana. (japan-guide.com. n.d.)

Sources :
bobo.grid.id
japan-guide.com. n.d