Furikae Kyuujitsu (振替休日)

振替休日(libur pengganti) adalah hari libur di Jepang yang diberikan bila ada hari libur yang jatuh pada hari minggu.  Hari libur ini diberikan pada hari kerja terdekat dari hari minggu itu. Seperti pada tahun ini, dimana hari libur peringatan konstitusi Jepang kemarin ada pada hari minggu, dan hari senin-selasa nya juga hari libur, sehingga furikae kyuujitsu nya jatuh pada hari rabu 6 Mei 2020.

The Japanese Calendar | Nippon.com
Source: https://www.nippon.com/en/ncommon/contents/japan-glances/132137/132137.jpg

Penambahan hari libur ini dimaksudkan agar hari libur nasional di Jepang tidak menjadi sia-sia. Furikae Kyuujitsu inilah yang biasanya membuat golden week atau minggu penuh liburan di Jepang menjadi lebih panjang.

Selain Furikae Kyuujitsu, ada beberapa aturan lain tentang liburan di Jepang yang cukup menarik. Diantaranya adalah sistem happy Monday yang menetapkan neberapa hari libur selalu pada hari senin. Berbeda dengan hari libur nasional di Indonesia yang memiliki tanggal fiks, beberapa libur di Jepang diletakkan pada “senin pada minggu ke-X di bulan Y.” Contohnya adalah Seijin no Hi yang selalu dirayakan pada Senin kedua bulan Januari.

Aturan lain yang tidak kalah menarik adalah aturan tentang hari kejepit! Yang mengatur kalau hari kerja diapit dua hari libur, hari itu ikut menjadi hari libur. Wah, mantap sekali, deh!

Berbagai aturan inilah yang membuat liburan di Jepang pada Golden week menjadi sangat panjang! Seperti tahun lalu, Karena kaisar Naruhito dimahkotai tanggal 1 Mei, dan 29 April adalah hari Showa, serta 3 Mei adalah hari Peringatan konstitusi, maka 30 April dan 2 Mei ikut menjadi hari libur karena dijepit dua hari libur. Kemudian, karena hari anak yang dirayakan tanggal 5 Mei pada tahun itu jatuh pada hari minggu, hari Senin, tanggal 6 Mei nya pun jadi hari libur! Jadi, ditambah dengan tanggal 27-28 April 2019 yang merupakan akhir pekan,  pada tahun 2019 Jepang memiliki libur 10 hari beruntun!! Libur beruntun ini bahkan sampai memicu protes rakyat Jepang yang merasa mereka kebanyakan libur.

Kodomo no Hi (こどもの日)

Banyak orang pasti sudah kenal hari spesial Jepang bernama Hina Matsuri yang juga disebut sebagai hari anak perempuan. Tapi taukah kamu dulunya Jepang juga memiliki hari spesial yang disebut dengan hari anak laki-laki?

Kodomo no Hi sendiri berarti hari anak-anak. Tapi hingga sebelum tahun 1948, Kodomo no Hi lebih dikenal sebagai Tango no Sekku yang sering di artikan sebagai hari anak laki-laki.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, Kodomo no Hi awalnya dikenal sebagai Tango no Sekku. Tango no Sekku merupakan salah satu dari 5 upacara tahunan yang dilakukan oleh kekaisaran Jepang. Tango no Sekku dirayakan pada hari ke-5 pada bulan ke-5 di kalender China. Namun, sekarang perayaannya sudah diganti menjadi tanggal 5 Mei. Dan akhirnya pada tahun 1948, pemerintah Jepang mengubah nama Tango no Sekku menjadi Kodomo no Hi.

Hal yang sudah menjadi ciri khas dari perayaan Kodomo no Hi adalah pengibaran Koinobori. Koinobori adalah sebuah bendera berbentuk ikan Carp atau ikan Koi. Hal ini dikarenakan sebuah legenda China yang mengatakan seekor ikan Carp yang melawan arus sungai dan menjadi seekor Naga. Koinobori melambangkan keinginan orang tua agar anaknya dapat menjadi tangguh dan pemberani layaknya ikan Carp tersebut.

Koinobori sendiri terbagi beberapa jenis. Koinobori terbesar dan bewarna hitam memiliki nama Magoi yang mewakilkan ayah, Koinobori kedua terbesar dan bewarna merah memiliki nama Higoi yang mewakilkan ibu, dan Koinobori terkecil mewakilkan anak.

Gambar 1. Koinobori (By 663highland, CC BY 2.5, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=39795378)

Pada Kodomo no Hi, rumah-rumah juga akan dihiasi dengan Kabuto dan/atau Gogatsu-ningyo. Kabuto adalah helm pelindung Samurai dan Gogatsu-ningyo adalah sebuah boneka samurai. Barang-barang ini mewakilkan cerita tradisional Jepang berjudul Kintarou dan Momotarou yang dimelambangkan ketangguhan dan keberanian

Dan seperti hari spesial di Jepang lainnya, Kodomo no Hi juga memiliki makanan yang spesial untuk hari itu juga. 2 makanan yang paling terkenal adalah Kashiwa Mochi dan Chimaki. Kashiwa Mochi adalah sebuah mochi berisi pasta kacang merah yang manis yang dilapisi oleh daun ‘Kashiwa’ yang juga berarti daun pohon ek (Oak). Dan Chimaki adalah ketan atau nasi lengket yang dilapisi oleh daun bambu

Gambar 3. Kashiwa Mochi (By Jiangang Wang – https://www.flickr.com/photos/pcfannet/3429766585/, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=6720065
Gambar 4. Chimaki (By fhisa – ちまき(粽), CC BY-SA 2.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=5041321. Gambar dipotong untuk kerapian)

Sampai saat ini, Kodomo no Hi masih dirayakan di penjuru negara Jepang. Kodomo no Hi juga merupakan salah satu dari hari libur nasional Jepang, dan karena Kodomo no Hi juga bertepatan sebagai hari terakhir Golden Week, tidak sedikit pula orang Jepang yang merayakan Kodomo no Hi. Semoga tradisi ini akan tetap berlanjut kegenerasi-generasi berikutnya.

Midori no Hi: Satu Hari Berdedikasi untuk Lingkungan

Apasih Midori No Hi itu?

Bila ditinjau dari segi bahasa, dalam bahasa Jepang midori berarti ‘hijau’ dan hi berarti ‘hari’ yang kemudian jika ditinjau dari segi bahasa, Midori No Hi berarti ‘Hari Hijau’. Midori No Hi sendiri adalah hari libur nasional di Jepang, dimana pada hari itu masyarakat Jepang diajak untuk bersama-sama menikmati dan menghargai lingkungan sebagai karunia pemberian dari Tuhan dengan cara menanam pohon, membersihkan taman, atau sekedar melihat pemandangan alam yang indah. Midori No Hi diselenggarakan pada musim semi dimana pemandangan alam sedang sangat indah di sana, tepatnya pada tanggal 4 Mei saat Minggu Emas (Golden Week) sedang berlangsung.

Sejarah Midori No Hi

Pada awalnya, Midori No Hi berlangsung pada tanggal 29 April dimana hari itu bertepatan dengan tanggal ulang tahun Kaisar Showa. Bermula saat Kaisar Akihito mulai berkuasa, ia mengubah Hari Libur Ulang Tahun Kaisar (Tenno Tanjoubi) dari tanggal 29 April menjadi tanggal 23 Desember yang imbasnya ditetapkanlah tanggal 29 April menjadi hari untuk menghargai lingkungan yaitu Midori No Hi atau Hari Hijau. Kemudian pada tahun 2007, parlemen Jepang menarik kembali Hari Ulang Tahun Kaisar menjadi tanggal 29 April dan memindahkan Hari Hijau ke tanggal 4 Mei yang sebelumnya diisi oleh Hari Libur Rakyat (Kokumin No Kyūjitsu). Hari Libur Rakyat sendiri dipindahkan ke tanggal 22 September.

Manfaat Midori No Hi

Memangnya apa pentingnya Midori No Hi sehingga dirayakan dan menjadi salah satu hari libur nasional di Jepang? Tentu saja banyak nilai-nilai yang dapat diambil dengan adanya perayaan Midori No Hi ini. Dengan adanya Midori No Hi, masyarakat Jepang menjadi lebih menghargai lingkungan, dan dari rasa menghargai tersebut muncul tindakan berupa penghijauan lingkungan. Midori No Hi juga menjadi salah satu sarana untuk memepererat interaksi dengan sesama dengan cara memandang keindahan alam bersama, menikmati musik dan festival, atau bersama-sama melakukan penghijauan di lingkungan masing-masing.

“The environment is where we all meet, where we all have a mutual interest, it is the one thing all of us share.”

-Lady Bird Johnson

Kenpo Kinenbi (けんぽ きねんび)

Halaman pertama Konstitusi Jepang (Public Domain, CC0, sumber: https://www.digital.archives.go.jp/DAS/pickup/view/detail/detailArchivesEn/0101000000/0000000003/00

Salah satu hari spesial terbesar dalam Golden Week adalah Kenpo Kinenbi. Hari ini dirayakan pada tanggal 3 Mei setiap tahunnya sebagai perayaan dilaksanakannya Konstitusi 1947 Jepang. Kenpo Kinenbi adalah salah satu hari libur nasional di Jepang.

Setelah kekalahan Jepang di Perang Dunia 2, Jenderal Amerika, Douglas MacArthur bekerja sama dengan pemerintah Jepang untuk membentuk sebuah konstitusi baru. Hasil dari kerja sama ini adalah Konstitusi Jepang. 3 tiang utama pada Konsitusi Jepang adalah: Kedaulatan pada rakyat, Pasifisme, dan penegakan HAM. Perlu diketahui walau Konstitusi Jepang berlaku mulai 3 Mei 1947, konstitusinya sendiri sudah dideklarasi sejak 3 November 1946, pada hari ulang tahun Kaisar Meiji.

Japan's golden week – Japanese

Pada Kenpo Kinenbi, pemerintah membuka bangunan Diet Nasional pada masyarakat umum. Kita dapat melakukan tur bangunan dan melihat Konstitusi Jepang yang asli. Bahkan, kita juga dapat melihat dokumen-dokumen lain yang membantu mencetuskan Konstitusi Jepang itu sendiri.

Kenpo Kinenbi juga menjadi hari dimana banyak perbincangan ataupun perdebatan terjadi. Pada hari ini banyak dilakukan seminar atau kuliah berkaitan dengan konstitusi yang terbuka untuk umum. Salah satu bahan perbincangan yang paling sering muncul adalah Bab 9 Konstitusi Jepang yang pada dasarnya menyatakan Jepang tidak bisa menggunakan perang untuk menyelesaikan masalah. Bab ini pada dasarnya menyatakan Jepang sebagai negara pasifis dan merupakan satu-satunya konstitusi negara yang memiliki pernyataan tersebut.

Kenpo Kinenbi merupakan hari spesial bagi Jepang sebagai negara. Dimana konstitusi yang membentuk Jepang yang sekarang akhirnya dilaksanakan. Dan telah menjadi satu identitas terbesar Jepang.

Showa no Hi

https://cotoacademy.com/wp-content/uploads/2017/07/5-Sho%CC%84wa-Day.png

Tahukah kalian, bahwa tanggal 29 April di Jepang setiap tahunnya diperingati sebagai hari libur nasional? Namanya adalah hari Showa! Hari Showa atau Showa no Hi juga menjadi penanda awal golden week, istilah untuk satu minggu antara tanggal 29 April sampai 5 Mei yang berisi 4 hari libur nasional Jepang.

Hari Showa, sesuai namanya merupakan hari libur nasional yang memperingati kaisar Jepang yang ke-124, Kaisar Showa. Mendiang kaisar Showa, yang memiliki nama lahir “Hirohito” adalah ayah dari Kaisar Heisei dan kakek dari Kaisar Jepang saat ini, Kaisar Naruhito. Beliau lahir pada 29 April 1901 silam, dan mulai menjabat mulai tanggal 25 Desember 1926 sampai akhir hayatnya pada 7 Januari 1989.

Masa pemerintahan Kaisar Showa merupakan masa-masa yang panas. Pergolakan politik, kancah Kekaisaran Jepang dalam peperangan, sampai pergantian konstitusi pasca-perang menjadi pengisi masa itu. Beliau mulai menduduki takhta Krisantemum di usia yang cukup muda, dan dalam kondisi negara tengah bergejolak dalam segala sektor. Namanya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu dari pemimpin negara-negara blok poros, dan juga tercatat sebagai kaisar terakhir Jepang sebelum perubahan konstitusi.

Awalnya, penetapan hari Showa sebagai hari libur nasional Jepang ditentang oleh berbagai pihak. Karena bagi kebanyakan warga negara Jepang saat ini, era Showa memiliki citra yang buruk. Sebelum tahun 2007, 29 April diperingati sebagai Hari Hijau (Midori no Hi) yang secara tidak langsung merujuk pada kebiasaan Kaisar Showa yang suka menanam pepohonan. Setelah usaha berulang kali, barulah 29 April ditetapkan sebagai Hari Showa.

Menurut undang-undang Jepang, Hari Showa merupakan  hari untuk mengenang hari-hari penuh pergolakan dan menjadikannya introspeksi diri  untuk masa depan. Dan Karena Hari Showa merupakan awal dari golden week, masyarakat Jepang biasanya akan pergi liburan atau mengunjungi kampung halaman.

Hanami (花見)

Hanami (花見, hana miru, “melihat bunga”) adalah adat tradisional Jepang untuk menikmati kecantikan bunga, yang merujuk ke bunga sakura. Kegiatan ini diilaksanakan sesuai dengan periode mekarnya bunga sakura yaitu akhir Maret hingga awal Mei. Di zaman modern, hanami terdiri dari pesta outdoor di bawah sakura saat pagi atau malam hari. Hanami pada malam hari disebut yozakura (夜桜, “sakura malam”) dan biasa ditemani dengan penggantungan lentera kertas di atas pepohonan. Ribuan orang mendatangi taman-taman untuk mengadakan perjamuan di bawah bunga yang bermekaran.

Kegiatan hanami dikatakan mulai saat periode Nara (710-794) saat bunga pohon plum yang bermekaran mempesona orang-orang. Akan tetapi, pada periode Heian (794-1185), bunga sakura lebih menarik perhatian orang sehingga hanami berkaitan erat dengan bunga sakura. Kaisar Saga dari periode Heian mengadakan pesta melihat bunga dengan sake dan jamuan di bawah pohon sakura yang bermekaran dalam istana di Kyoto. Awalanya kegiatan ini hanya terbatas di kalangan elit kerajaan tetapi menyebar ke masyarakat samurai hingga ke masyarakat awam di periode Edo.

Hanami ini erat kaitannya dengan filosofi masyarakat jepang tentang konsep hidup yang fana yang merupakan cerminan dari bunga sakura yang hanya bertahan satu minggu saja. Simbol tentang kehidupan manusia yang singkat dan bisa berakhir kapan pun juga seperti gugurnya bunga sakura di kala mekarnya. Menjadi budaya yang mengajarkan kita untuk mensyukuri kebahagiaan yang datang bahkan walau itu hanya datang sesaat. Dan kebahagiaan ini menjadi modal kita menghadapi segala duka kehidupan setelahnya. Dengan harapan bahwa kebahagiaan itu akan datang lagi esok hari.

Di tahun ini, hanami di berbagai tempat dibatalkan karena adanya wabah Covid-19 yang tidak hanya melanda Jepang tapi juga seantero dunia ini. Berbagai festival untuk memeriahkannya pun banyak yang tidak terlaksana. Hanami tahun ini mungkin tidak semeriah tahun sebelumnya karena kita hanya bisa melakukannya dari rumah masing masing.

Bunga sakura di Hokkaido mulai mekar. Sebentar lagi kebahagiaan ini akan pergi, bahkan tanpa sempat kita mensyukurinya sebagaimana kita melakukannya di masa lalu. Badai wabah ini mungkin membawa kesedihan untuk kita. Tapi, mari kita percaya bahwa kita bisa melalui badai ini bersama sama. Dan saat itu selesai, kita akan bertemu dengan kebahagiaan itu esok hari. Dan saatnya nanti, kita akan sangat bersyukur menemuinya. Kebahagiaan yang selalu kita tunggu itu.

Credit: https://xsmlfashion.com/tab/532/filosofi-bunga-sakura-bagi-masyarakat-jepang

Shunbun no Hi

“Wah, kok di layar chat aku tiba-tiba ada bunga sakuranya?”

Cantik ya? Tentunya kalian sudah tahu kan kalau di jepang, bunga sakura adalah bunga khas musim semi. Lalu, apa sih yang jadi penanda musim semi itu dimulai?

Jawabannya adalah 春分の日(Shunbun no Hi)! Yang pada tahun ini jatuh pada 20 Maret!

Shunbun no Hi, yang kalau diartikan kanji-ke-kanji adalah hari pembagian musim semi, merupakan salah satu hari libur nasional Jepang lho guys! Shunbun no Hi menandakan ekuinoks musim semi, yaitu hari dimana posisi sumbu bumi sedemikian rupa sehingga lama siang dan malamnya suatu daerah akan sama. Ekuinoks musim semi menjadi penanda berakhirnya musim dingin dan secara resmi memulai musim semi.

Di Jepang, Shunbun no Hi tidak memiliki tanggal yang  tetap, karena harus melakukan perhitungan astronomi untuk menentukan kapan ekuinoks terjadi. Jadi, Shunbun no Hi tahun ini selalu ditetapkan pada bulan Februari tahun sebelumnya. Shunbun no Hi termasuk kedalam salah satu dari 24 titik pembagian tahun dalam budaya Jepang. Shunbun no Hi merupakan hari untuk mengenang leluhur dan penguasa yang lalu, juga sebagai hari berbenah diri dan memperbarui diri, karena musim semi identik dengan perubahan, baik dalam hidup, karir, maupun cinta. Hari ini juga diperingati sebagai wujud syukur kepada alam yang telah memberikan musim semi kepada manusia.

Rakyat Jepang merayakan hari libur ini dengan berdoa ke kuil. Orang-orang datang ke kuil terutama petani untuk memohon hasil panen musim semi yang baik dan untuk bersyukur karena musim dingin sudah berakhir. Lalu, karena Shunbun no Hi bertepatan dengan acara keagamaan Haru no Higan, upacara mengenang leluhur, maka pada Shunbun no Hi, rakyat Jepang akan melakukan ziarah ke makam keluarga, menaruh sesembahan dan membersihkan makam.

Tidak sedikit juga yang mewarnai hari libur awal musim semi ini untuk berbenah-benah diri, membersihkan rumah, mencoba mencari imej baru, atau bahkan berburu cinta musim semi.

Hinamatsuri

Baru kemarin, satu acara di Jepang baru saja berakhir. Apa tuh? Hinamatsuri nih. Emang apa hinamatsuri?

Perayaan hinamatsuri adalah perayaan yang dirayakan pada 3 Maret setiap tahunnya dan berarti secara bahasa sebagai “Festival Boneka”. Festival ini juga disebut hari “Hari Anak Perempuan” karena biasanya para keluarga merayakan hari ini dengan mendoakan kesuksesan anak perempuan mereka.

Perayaan ini muncul pada Periode Heian, pada saat Momo no Sekku (Festival Persik, yang merayakan mekarnya bunga persik) dengan pandangan bahwa saat itu, boneka bisa menghalau roh jahat atau kesialan. Perayaan ini dilakukan dengan memajang boneka Hina ningyo selama perayaan Hina Matsuri dengan harapan boneka itu menyerap kesialan yang diharapkan akan banyak keberuntungan yang datang setelahnya.

Jenis boneka yang dipakai adalah Kokinbina yang merupakan boneka yang dibuat berdasarkan pernikahan keluarga kerajaan zaman Heian yang dibuat sangat detil dan realistik. Set boneka yang awalnya hanya berupa Raja dan Permaisuri dibuat menjadi set boneka istana. Yang paling atas menggambarkan kaisar dan permaisuri. Yang lainnya ada pula tiga orang dayang-dayang, lima orang musisi yang bermain musik, serta ada menteri kanan dan menteri kiri yang mendukung politik. Selain itu ada juga hiasan gerobak sapi dan rak teh, lampu yang bernama “bonbori”, serta buah persik dan buah tachibana.

Hinamatsuri juga dirayakan dengan menyajikan hidangan kecil kecilan seperti shirozake dan hishi mochi untuk anak perempuan di rumah. Hishi mochi ialah roti yang berbentuk belah ketupat dan dibuat dengan 3 lapisan warna. Tiga warna itu ialah warna putih yang merupakan simbol kesucian dan  putihnya salju, warna pink yang melambangkan bunga persik yang melambangkan keberuntungan, dan warna hijau yang merupakan simbol rumput hijau yang bersemi yang melambangkan umur yang panjang. Shirozake adalah fermentasi dari beras ketan yang memiliki filosofi menghilangkan semua hal yang tidak baik dari tubuh.

Nilai yang bisa didapat dari perayaan ini ialah nilai keteraturan dalam menyusun tingkatan dari boneka ini yang mengajarkan kepada anak untuk mengambil sikap sesuai posisi dan tanggung jawab masing masing. Diajarkan juga kepatuhan kepada orang tua disaat anak perempuan memandangi set boneka, mereka akan mendengarkan nasihat dan doa doa dari orang tua dalam mencapai suatu kesuksesan. Perayaan ini juga memberikan kesempatan kumpul keluarga untuk menyusun boneka, mempersiapkan hidangan, dan menyajikan hidangan serta mendoakan dalam keberuntungan kepada anak yang memperkuat keharmonisan keluarga.

Seijin no Hi: Upacara Kedewasaan

~~~ヾ(^∇^)おはよー♪ pagi guys! Tau ga sih. 13 Januari tahun 1 Reiwa kemarin, Jepang baru saja merayakan salah satu seremoni tahunannya! yaitu Seijin no Hi. Jalan-jalan utama di Jepang dipenuhi ABG sambil mengenakan pakaian terbaiknya. Twitter juga penuh dengan selfie ABG pakai kimono, biasanya gadis-gadis cantik, untuk menyambut hari itu. Keliatannya rame banget kan? Tapi, kalian sudah tahu belum, apa itu Seijin no Hi? 😊

Seijin no Hi, yang artinya adalah hari kedewasaan, adalah hari libur nasional yang dirayakan setiap hari senin kedua bulan Januari. Seijin no Hi dirayakan untuk memperingati setiap anak remaja yang berulang tahun ke-20 antara bulan April tahun sebelumnya sampai bulan April tahun ini. 🎂🥳

Seijin no Hi sudah dirayakan sejak abad ke-8 di Jepang, sebagai perayaan setiap anak yang menginjakkan diri menuju kedewasaan. Dalam budaya Jepang, seseorang dikatakan dewasa bila sudah berusia 20 tahun. Awalnya, perayaan ini hanya untuk memperingati kedewasaan pangeran kekaisaran Jepang, namun pada 1948, pemerintah Jepang meresmikan Seijin no Hi sebagai hari libur nasional. Awalnya sih, liburnya tanggal 15 januari, tapi karena liburannya sering bertabrakan dengan hari minggu, liburannya jadi dipindah ke hari senin pada minggu kedua bulan januari. ( ´∀` )

Pada hari itu, seluruh remaja yang memenuhi syarat akan memakai pakaian terbaiknya, biasanya kimono spesial atau jas resmi, lalu pergi melaksanakan seijin shiki, yaitu upacara kedewasaan. Seijin Shiki biasanya diadakan di tiap balaikota di setiap daerah.👘pastinya bakal keliatan lucu banget deh! カワ(・∀・)イイ!!

Pada Seijin Shiki, pemerintah akan memberi selamat dan memberikan bingkisan kecil kepada tiap peserta. Setelah itu, kebanyakan akan menghadiri reuni taman kanak-kanak atau sekolah dasarnya. Lalu, pada malam hari, remaja yang sudah menjadi orang dewasa ini akan mencoba sake, karena hanya orang dewasa berusia 20 tahun yang boleh meminum alkohol yang jahat tapi enak. 🍶 banyak juga yang memilih bercengkrama dengan yang tercinta karena sudah dewasa. ぁぃ(。・ω・。)ノ♡

Seijin no Hi merupakan salah satu cara pemerintah Jepang untuk mengapresiasi rakyatnya. Menjadi dewasa, berarti menjadi bagian dari masyarakat, adalah hal yang layak untuk dibanggakan karena mereka telah melepas diri dari masa kanak-kanak. Seijin no Hi juga menjadi pengingat kepada remaja yang telah berusia 20 tahun, bahwa mereka telah menjadi orang dewasa. 👪

Meski begitu, seiring dengan waktu, remaja yang datang ke seijin shiki di tiap daerahnya terus mengalami penurunan ( ;∀;).  Hal ini dikarenakan pudarnya makna kedewasaan bagi remaja Jepang saat ini. Bagi remaja Jepang saat ini, Seijin no Hi hanyalah acara reuni atau acara pamer pakaian mahal.

Sekian deh info soal budaya kali ini, asik ya liburnya dibuat supaya tidak tabrakan dengan hari minggu。tapi inti dari hari raya seijin no hi ini ada pada penanda kedewasaan nya kok, bukan tanggal merahnya ((´∀`))ケラケラ

👘 Yukata : Baju Cantik Tradisional Jepang 👘

Eyyyy, disini pasti udah tau yukata kan?
Nah kali ini kita ulik yuk sejarah dan aksesorisnya.

Istilah yukata berasal dari kata yukatabira (湯帷子) yang terdiri dari kanji 湯 (yu) yang berarti air panas dan 帷子(katabira) yang merupakan kimono tipis jenis kain rami. Jadi, Yukatabira bermakna kain rami tipis yang dipakai untuk pemandian air panas. Jadi yukata awalnya dipakai saat berendam air panas di rumah.

Seiring bertambahnya waktu yukatabira mulai mengalami penyingkatan sebutan menjadi yukata (浴衣) yang lebih berarti baju mandi. Walaupun mengandung makna asli yaitu baju mandi, yukata lebih diartikan sebagai baju setelah mandi karena pemakaiannya lebih untuk mengeringkan badan setelah mandi dan penggunaan setelah mandi seperti ketika tidur dan ketika bersantai di rumah setelah mandi.

Penggunaan yukata meningkat menjadi pakaian pengganti kimono dalam acara tradisional dan festival selama musim panas terutama ketika masa – masa akhir Zaman Edo. Saat itu ada pelarangan penggunaan kimono yang berbahan sutra karena dinilai mewah dan pemerintah menekankan penggunaan kimono dari kain rami atau katun yang merupakan bahan dasar dari yukata. Karena itu, penggunaan yukata mulai menjadi pakaian di publik dan menjadi pakaian tradisional masyarakat Jepang.

Penggunaan yukata di zaman modern ini lebih sering terlihat di musim panas terutama di festival nih seperti matsuri dan kembang api juga di beberapa hari besar seperti hari Obon yang merupakan hari penyambutan arwah di Jepang.

Yukata biasanya erat hubungannya dengan aksesoris pendukungnya seperti:
• Geta atau sandal kayu jepang
• Koshihimo atau tali pinggang awal untuk mengencangkan kain yukata di pinggang.
• Obi atau sabuk yang menjadi pengencang utama di yukata setelah penggunaan koshihimo. Obi inilah yang biasanya dikreasikan bentuknya menjadi hiasan di bagian belakang. Ikatan obi yang paling dasar dan sering dipakai untuk pria adalah Kai no Kuchi (貝の口) dan untuk wanita yaitu Chōchō musubi (蝶蝶) .

Nah buat yang tertarik untuk mencoba bisa banget nih dateng ke UKJ dan ‘meminjam’ yukata yang ada di UKJ hehe. 👘👘👘